14 Oktober 2010

10 Peraturan Pernikahan Yang Keliru

(c)lifedynamix.com
Seringkali, kita mendapati pasangan jadi menomor-duakan hubungan mereka karena mereka ingin menjadi orang tua yang baik. Padahal kita baru bisa menjadi orang tua yang baik saat kita menjadi pasangan yang baik. "Anda dan pasangan harus melakukan semuanya bersama-sama, segera menyelesaikan masalah (sebisa mungkin tanpa bertengkar), menghabiskan malam di atas ranjang yang sama, dan jangan pernah merasa bosan dengan pasangan." Semua ini mungkin pernah Anda dengar bahkan anggap sebagai hukum utama yang wajib ditaati bila ingin pernikahan bahagia.

"Faktanya, menganggap lalu beberapa peraturan di atas adalah hal terbaik yang bisa dilakukan untuk hubungan dengan pasangan," ujar psikoterapi Barbara Bartlein, RN, MSW, yang juga mengarang buku bertajuk WHY DID I MARRY YOU ANYWAY?. Lalu, apa saja sih peraturan yang ternyata keliru tersebut? Kita simak bersama yuk.

Selesaikan masalah sebelum tidur

Faktanya, ada begitu banyak pasangan yang terlalu letih untuk menyelesaikan masalah mereka saat malam hari tiba. Yang seharusnya adalah menyelesaikan sendiri kemarahan atau kejengkelan yang mungkin timbul dalam diri masing-masing. Tentang solusi, bila memang belum bisa ditemukan hari itu juga, maka tundalah hingga besok, saat pikiran masing-masing sudah lebih fresh.

100% jujur

Dalam pernikahan, mengungkapkan segala sesuatu pada pasangan bukanlah sebuah aksi yang bijaksana. Anda tak perlu menceritakan dengan detail apa saja kegiatan dan perkataan romantis yang pernah Anda lakukan dengan mantan terdahulu. Anda harus mempertimbangkan apa yang mungkin bakal dirasakan dan dipikirkan oleh pasangan tentang hal tersebut. Perlu pemikiran bijak untuk memilah apa yang perlu dan tidak perlu diketahui pasangan. Jangan sampai urusan sepele membuat Anda berdua bertengkar hanya karena salah paham.

Jangan berlibur seorang diri

Memang adalah hal yang menyenangkan bila bisa menghabiskan liburan bersama pujaan hati, namun masalahnya minat Anda dan suami belum tentu sama. Anda suka berenang, suami suka lebih suka travelling. Mengatasi hal ini tentu saja, sesekali Anda boleh pergi berenang sendiri bersama teman-teman wanita, dan biarkan suami menikmati pengalaman travelling-nya. Dengan begitu masing-masing pihak bisa merasakan kebahagiaan dan hal ini malah bisa membuat hubungan Anda berdua lebih kuat karena tidak ada kekangan terhadap satu sama lain.

Bertengkar = kemungkinan cerai

Sebenarnya, ungkap Barbara, sebuah penelitian menunjukkan bahwa pasangan yang tak pernah bertengkar lebih berpotensi untuk bercerai karena masing-masing cenderung menahan diri untuk tidak menunjukkan emosi sesungguhnya. Anda boleh bertengkar dengan pasangan, namun lakukan itu dengan cara yang sehat dan produktif (tanpa unsur saling menyalahkan, mengejek nama, dan sejenisnya). Ingatlah bahwa konflik tersebut juga harus berujung pada pencarian solusi, bukan hanya sekedar mengungkapkan emosi dan pemikiran masing-masing.

Saat anak lahir, mereka yang lebih utama

Anak-anak perlu melihat adanya keamanan dan kekuatan dalam hubungan kedua orang tuanya agar mereka bisa bertumbuh menjadi pribadi yang juga saling mengasihi, sama seperti orang tuanya. Jadi, tak mengapa sebenarnya bila Anda dan pasangan berkencan berdua saja sekali waktu.[break]

Pasangan tak seharusnya pisah ranjang

Hanyalah sebuah mitos jika Anda dan pasangan akan tidur lebih nyenyak bila selalu tidur berdua. Saat Anda masih ingin membaca, sedangkan mata suami sudah berat, apa yang akan Anda lakukan? Tentu saja memilih tidur di kamar sebelah adalah pilihan paling bijak. Yang perlu dicatat tentang pisah ranjang di sini adalah agar hal ini tidak sampai membuat Anda berdua terpisah dalam kaitannya dengan keintiman dan hubungan seksual.

Hobi harus sama

Hanya karena Anda sudah menikah, maka hal itu tidak mengharuskan Anda berdua seragam dan sama dalam segala hal. Jika selera makan masih tetap berbeda, maka hobi pun bisa beda juga. Hubungan sehat sebenarnya adalah hubungan yang menghargai kebebasan satu sama lain, tentang makanan, selera makanan, film, buku, dan lain sebagainya. Tetap lakukan apa yang Anda sukai, sambil mencari juga kesenangan Anda bersama pasangan.

Tak ada getaran, maka hubungan ini gagal

Kenyataannya, romantisme akan segera berlalu, dan saat tidak ada lagi getaran itu, maka yang tertinggal adalah komitmen sehidup-semati yang pernah Anda ucapkan dulu. Komitmenlah yang membuat sebuah hubungan abadi, bukan getaran yang dirasakan.

Bosan? Ow-ow, masalah besar!

Dalam menjalani hidup ini, setiap orang, suami, istri, anak, pekerja, atasan, semuanya pasti pernah mengalami yang namanya rasa bosan. Perasaan down ini bisa terjadi karena kehidupan atau aktivitas yang monoton, tidak selalu karena pasangan. Saat hal ini datang, bangkitkan kembali semangat Anda dengan melakukan hal-hal yang menyenangkan dan menantang.

Anda harus berhubungan seks untuk membahagiakan pasangan

Meski pria sangat suka seks, namun hal itu bukanlah inti kebahagiaan mereka. Seks hanyalah bonusnya. Seks tidak ada apa-apanya dibanding pengertian, perhatian, dan cinta kasih yang Anda berikan pada suami selama ini. Toh, saat dulu suami jatuh cinta pada Anda, itu bukan karena seks kan? Seks hanyalah salah satu cara untuk menunjukkan kasih pada satu sama lain, dan kebahagiaannya untuk kedua pihak, bukan salah satu saja.

Dengan mengetahui beberapa peraturan yang keliru, mari kita perbarui komitmen kita dengan pasangan dan raih hidup bersama penuh kebebasan dan kebahagiaan. Selamat menempuh 'hidup baru' ibu!

Sumber : http://woman.kapanlagi.com/relationship/keluarga/4253-10-peraturan-pernikahan-yang-keliru.html

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts with Thumbnails